Skip to main content

Day 1 - The Inside of Me

Halo lagi!
 
Mudah-mudahan hari ini jadi hari yang menyenangkan untuk kalian, walau kita semua lagi di rumah aja (or some of us, at least).
 
I honestly have no idea about what I wanna write here today, so I'm just gonna let it flow...


Hari pertama ini, challenge-nya adalah menulis tentang kepribadian diri sendiri. Cukup sulit, sih, untukku pribadi. Sejak hobi menulis, aku paling anti menuliskan apa pun tentang diriku sendiri. Lagi pula, selain perasaan, hal apa lagi dariku yang cukup menarik untuk dituang dalam tulisan?
Tapi, demi memenuhi komitmenku sendiri, here it is.

Dari tiga kali hasil test MBTI (a very popular personality test) hasil yang kudapat adalah INFP-T atau Mediator. Ada yang sama? Yah, aku menganggap hasil yang kudapat ini hanya sekelumit dari kompleksnya kepribadianku.

Aku seorang introvert, jelas. Aku mencintai zona nyaman-ku lebih dari apa pun. Butuh lebih dari sekedar kemauan untuk meninggalkan tempat-tempat di mana aku merasa nyaman di dalamnya. Terutama kamarku di rumah dan kamar indekosku yang mungil. Bukan hanya karena di dalamnya ada kasur untuk rebahan, loh! Bagiku, kedua kamarku yang berjauhan letaknya ini adalah zona pribadi di mana aku merasa paling aman. Aku bisa menjadi diriku sendiri, bisa melakukan apa saja yang aku mau, bisa bebas sebebas-bebasnya. Bukan cuma jadi kelewat nyaman, aku juga jadi protektif terhadap zonaku ini. Teman-temanku pasti tau, hanya segelintir saja orang yang dengan sukarela aku ajak ke kamarku, baik di tempat kost, maupun di rumah. Aku menganggap zonaku ini sebagai benteng, jadi tidak sembarang orang kuajak berkunjung.

Mengenai teman-teman... Meski mengenal banyak orang, rasanya hanya sedikit sekali yang bisa benar-benar kusebut "teman". Aku kadang kesulitan menempatkan diri di lingkungan baru. Aku bingung bagaimana cara mengenalkan diriku dengan pantas, aku bingung mencari topik obrolan, aku bingung bagaimana memulai percakapan... Aku merasa canggung dan gelisah jika berada di antara terlalu banyak orang, terutama orang-orang yang tidak terlalu aku kenal. Namun, sikapku ini cenderung dinilai sebagai sikap yang angkuh oleh beberapa orang (yang mereka akui setelah sudah lama mengenalku). Jutek dan sombong sudah biasa jadi cap untukku ketika mereka pertama kali mengenalku. Padahal, aku tidak merasa demikian. Kadang-kadang aku merasa aku bersikap menyedihkan ketika sendirian, tapi orang-orang kemudian menyebutnya "tidak mau berteman". Aku sering menertawakan hal ini bersama teman-temanku, kalau mereka mengungkit masa-masa ketika kita belum saling kenal. Aku jamin, aku sama sekali tidak seperti yang kalian pikirkan pada first impression kalian.

Tapi bahkan setelah berteman pun, aku lebih senang sendirian di kamar indekosku yang mungil ketimbang kumpul-kumpul bersama teman-teman sekelasku. Aku lebih senang mengunci diri di kamar yang teduh, mendengarkan musik sendirian, membaca buku, atau apa pun yang membuatku jauh dari keharusan bergabung dengan banyak orang. Bukannya aku tidak suka berkumpul dengan teman-teman. Aku tau akan jadi selelah apa aku akhirnya, sehingga aku lebih suka menghindari masa-masa ketika energiku terkuras dan aku harus susah payah memalsukan ketidaknyamananku di depan banyak orang. Sungguh, sendirian itu lebih nyaman.

Salah satu hal yang paling aku cintai dari waktu-waktu sendiriku adalah membaca. Aku SANGAT suka membaca. Walau hampir semua orang bilang tampangku jauh dari nerd, tapi aku adalah nerd sejati dan aku bangga mengakuinya. Kalau aku sudah membaca buku yang bagus dan menarik, maka selamat tinggal realita, aku akan tenggelam dalam buku itu sampai di kalimat terakhirnya. Kegemaranku membaca ini menjadikanku seseorang yang sangat menikmati proses berpikir. Aku senang mengetahui suatu hal yang baru, mengolahnya data per data, membentuk opiniku sendiri, dan mendengarkan opini orang lain. Kalau soal berdiskusi tentang suatu hal menarik, aku kuat berbicara berjam-jam. Aku sering melakukannya dengan teman-temanku di SMA. Kehilangan mereka di masa kuliah ini sungguh berat, terutama ketika aku menemukan banyak hal baru yang ingin kudiskusikan.

Aku terlalu sering terhanyut dalam pikiranku. Tak jarang aku melamun ketika dosen sedang menjelaskan, atau di tengah-tengah keributan kelas, atau bahkan ketika aku berjalan kaki pulang ke kost. Kadang, aku sengaja berjalan kaki sendiri supaya bisa berpikir dengan tenang, meski ada teman yang bisa mengantar pulang. Berpikir itu menyenangkan. Menurutku seseorang harus memiliki opini sendiri akan sesuatu. Kita harus bisa menentukan di "pihak" mana kita berada, dan harus tau dengan pasti sikap kita pada hal tersebut. Jika dunia ini hanya terdiri dari hitam dan putih, lebih baik jangan memaksakan mengambil zona abu-abu. Kamu harus berprinsip. Harus punya sikap dan opini. Tapi jangan menjadi keras kepala dan mau menang sendiri. Itulah sebabnya aku suka berdiskusi dengan orang lain. Mendengarkan opini orang lain, terutama yang berseberangan dengan opiniku, membuka wawasanku lebih luas lagi, memaksaku melihat dari sudut pandang lain, dan menjadikanku lebih bijaksana lagi.

Itu juga sebabnya mengapa aku menamakan laman ini artem cogitationes, atau yang artinya bisa kalian lihat dari judulnya: The Art of Thoughts, seni pikiran. Ada keindahan dari cara setiap orang berpikir, yang sering kali tidak sama. Setiap orang memiliki seni sendiri untuk berpikir, berbagai cara untuk melihat dunia. Kacamata kita tidak sama, tapi itulah kita. Itulah manusia. Yang harus diingat, meskipun berbeda, meski berseberangan dan bertentangan sekalipun, hargai apa kata orang lain. Kebebasanmu berpendapat dibatasi oleh kebebasan orang lain berpendapat. Opini-opini yang berbeda tidak pernah menjadi opsi ya atau tidak, bukan juga opsi benar atau salah. Justru, ketika kamu mendengarkan, pikiranmu semakin terbuka, pandanganmu makin luas. Hal-hal yang semakin membuka matamu, bahwa dunia tidak sesederhana yang tampak, pun tidak sesulit yang kamu pikirkan.

Hal lain tentang kepribadianku ini adalah kecenderunganku untuk menjadi leader dalam berbagai hal. Aku senang mengetuai sesuatu, sejujurnya. Aku senang menjadi otak dari sebuah sistem. Aku senang melihat buah pikiranku pelan-pelan menjadi nyata dan terwujud. Aku mengakui aku sedikit perfeksionis. Ketika aku memikirkan akan jadi seperti apa proyek yang aku buat, aku tidak hanya bermimpi tentang gambaran besarnya, tapi juga tentang detail-detail yang harus ada. Seringnya, aku lupa bahwa aku bekerja bersama manusia, bukan robot yang kumasukkan program. Hasilnya, aku sering uring-uringan sendiri jika suatu hal yang kutargetkan kandas di tengah jalan. Aku terlalu bergantung pada ekspetasi tinggi. Sehingga ketika terjatuh, aku menyalahkan orang lain. Padahal, ekspetasi itu buatanku sendiri. Aku percaya semua orang punya kemampuan dan kemauan untuk memahami. Aku percaya semua orang punya visi yang hebat. Aku percaya semua orang lebih senang berada di sistem yang kondusif. Nyatanya, tidak semua orang memilih untuk melakukan itu ketika berorganisasi.

Ketika aku kecil dulu, ayahku sering membawa anggota-anggota tim kerjanya untuk makan siang di rumah. Mereka tidak membahas pekerjaan, tapi membahas hal-hal lain di keseharian. Kebiasaan-kebiasaan mereka, keluarga mereka, hobi mereka, apa yang mereka suka. Ayahku duduk mendengarkan, mengobrol dengan santai. Aku sering ada di sana dulu, ikut mendengarkan ketika mereka berbicara dan ayahku memberi tanggapan. Malamnya, aku bertanya, untuk apa mereka datang kalau tidak rapat bahas kerjaan? Ayahku bilang, pemimpin yang baik mengenal anggotanya seperti mengenal keluarganya sendiri. Sejak saat itu, aku bertekad menjadi pemimpin yang seperti itu.

Kenyataannya, ketika aku beranjak dewasa dan mencoba mengetuai beberapa hal, ada banyak sekali aral melintang yang menghalangiku memuluskan niat menjadi sosok pemimpin yang baik. Kebanyakan tentu saja dari faktor emosiku yang labil. Sulit sekali rasanya melihat rencanamu tidak dijalankan dengan baik oleh orang lain, padahal kamu yakin ini sudah dirancang sedemikian sempurna. Aku menyadari banyak sekali kekuranganku sebagai pemimpin, sehingga aku selalu berusaha belajar. Lebih sabar, lebih mendengarkan, lebih fleksibel dan tidak menekan. Sulit bukan main, memang. Tapi aku akan selalu berusaha dan berusaha lagi. Belajar dan belajar lagi. Meski sampai detik inipun, hasilnya jauh dari sukses. Tapi semua juga butuh proses, bukan?

Terakhir, hal yang selalu identik dengan seorang Puterica di mata teman-temannya (yang cuma sedikit). Sesuai dengan testimoni teman-teman, aku ini galak. Sedikit-sedikit marah. Sedikit-sedikit protes. Kalau sudah tidak suka, aku tidak segan menunjukkan bahwa aku tidak suka. Kalau sudah sampai ke tahap benci, aku tidak segan meninggalkan. Tapi aku bukan orang yang pendendam. Meski pernah dibuat meledak marah, ketika marahku reda, aku akan lupa juga. Aku bukan orang yang senang menyimpan dendam dan benci. Itu sebabnya jika tidak suka, aku bilang. Lebih baik mereka tau, daripada aku pendam sendiri. Hal ini yang seringnya menyebabkan beberapa orang temanku ciut nyalinya jika aku terlihat marah. (Hehehe... Maaf ya teman-teman, peacee!)

Tapi galak-galak begini, aku sebenarnya perasa. Aku sering menangisi banyak hal sepele. Contohnya, aku pernah menangis ketika naik delman. Kasihan kudanya, harus menarik beban berat, dicambuk jika jalannya lambat. Aku menangis melihat anak-anak kucing tanpa induk yang terluka. Mereka luka-luka, sambil terisak-isak aku bersihkan luka mereka dengan betadine. Aku menangis melihat adikku dimarahi. Aku menangis melihat anak anjing disakiti. Aku menangis mendengar salah satu sepupuku dibully.

See? Tuduhan aku kelewat galak itu seharusnya dihapuskan.
Aku ingin jadi orang yang terlihat kuat, supaya bisa melindungi mereka yang tidak berdaya. Mereka yang terlihat lemah dan sering jadi bulan-bulanan orang lain yang sok kuat.

Jadi...
Aku kehabisan ide tulisan. Mentok. Ternyata menilai diri sendiri itu jauh lebih sulit daripada kelihatannya. Harusnya ada seseorang yang menciptakan cermin untuk kepribadian, bukan hanya cermin untuk penampilan.

Sekian untuk Day 1 yang terlambat ini, hehehe...
Selamat malam, teman-teman. Sampai jumpa besok! :)



xx
puterica

Comments